Thursday, August 21, 2014

Google StreetView Sudah Aktif di Indonesia!

Fitur menarik yang ada di Google Maps, Google StreetView, akhirnya menjangkau negara tercinta, Indonesia. Sejak beberapa saat lalu, pengguna Google Map yang membuka peta kota Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, serta Denpasar akan menemukan menu untuk mengakses fitur StreetView. Melalui menu tersebut, pengguna kini bisa menjelajahi jalan-jalan di kota-kota tersebut dengan melihat langsung wujud nyatanya!
Google StreetView Jakarta 2W
Disertakannya Jakarta, Surabaya, dan Denpasar di daftar kota yang telah bisa dijelajahi dengan menggunakan Google StreetView memang sudah diprediksi sejak beberapa waktu lalu. Mobil milik Google yang biasa digunakan untuk merekam gambar untuk StreetView memang sempat terlihat mengitari jalan-jalan di Jakarta di tahun 2013 lalu. Tampaknya, setelah memproses gambar-gambar yang telah diambil oleh mobil tersebut, pihak Google telah siap merilis StreetView untuk tiga kota besar di Indonesia tersebut.
Untuk Jakarta, Google tampaknya telah mengumpulkan gambar yang cukup untuk memvisualisasikan hampir seluruh wilayah Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya. Berdasarkan halaman Google Map yang kami buka, jalan-jalan di penjuru Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur serta sebagian Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi telah siap dijelajahi dengan mode StreetView tersebut. Jalur pantura dari wilayah Jakarta hingga Jawa Tengah pun sebagian telah bisa diakses melalui StreetView.
Google StreetView Jakarta 1
StreetView sudah bisa dinikmati di Google Maps Desktop.
Google StreetView Jakarta 3R
Serta di Google Maps di Android.
Serta di Google Maps di Android.
Google StreetView Jakarta 4
Penasaran dengan fitur StreetView ini? Anda bisa menggunakan tombol yang terletak di bagian kanan bawah layar Google Map Anda untuk menampilkan daerah mana saja yang bisa Anda jelajahi dengan StreetView. Selamat mencoba!

http://www.jagatreview.com/2014/08/google-streetview-sudah-aktif-di-indonesia/

Tuesday, August 19, 2014

Fisika Terapan

fisika terapan
mengaduk nasi dalam rice cooker akan memperpanjang usia nasi agar tidak cepat basi,

Tuesday, August 5, 2014

Kisah Inspiratif Immang, Kandidat Doktor Fisika di Oxford pada Usia ke-23

Firmansyah Kasim alias Immang (Foto: M Nur Abdurrahman/detikcom)
Makassar - Di balik kesederhanaan dan senyum ramahnya, mungkin tidak ada yang menyangka, Firmansyah Kasim (23) merupakan kandidat Doktor Fisika Partikel Universitas Oxford di Inggris. 

Saat ditemui detikcom di Warkop Bundu, jalan Rusa, Makassar, Senin (4/8/2014), pria yang akrab disapa Immang ini mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa sekolah di luar negeri. Immang merupakan penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). 

Ketika duduk di bangku SMA, di SMA Islam Athirah, putra bungsu pasangan Kasim dan Farida kelahiran 26 Januari 1991 ini pernah meraih medali emas di 38th International Physics Olympiad, Juli 2007 di Isfahan, Iran dan pada April 2007 juga meraih medali emas di Asian Physics Olimpiad (APhO) di Beijing,Tiongkok, termasuk beberapa penghargaan internasional lainnya.

Selain sibuk menimba studi di negeri Ratu Elizabeth ini, Immang merupakan warga Indonesia pertama yang aktif di Lembaga Penelitian Fisika Partikel di Universitas Oxford. Selain itu pula ia juga aktif sebagai peneliti di CERN (Conseil Europe;ene pour la Recherche Nucle;aire) laboratorium penelitian Fisika Partikel dan Nuklir terbesar di dunia, yang berada di Jenewa, Swiss. 

Di jurusan Fisika Partikel Oxford ini pula Immang sealmamater dengan fisikawan dunia, Stephen Hawking. Jika tak ada aral menghalang, dalam 2 tahun ke depan Immang akan meraih gelar Doctor Philosopy atau biasa disingkat DR. Phil bidang Fisika Partikel, gelar kebanggaan alumni Universitas Oxford.

Immang berharap akan semakin banyak anak Indonesia yang mengikuti jejaknya, menimba ilmu di universitas ternama di dunia. Syaratnya, tekun belajar dan pandai memanfaatkan peluang beasiswa sekolah di luar negeri.

"Saya berharap bisa mengabdikan diri untuk bangsa setelah selesai menimba ilmu di Oxford dan semakin banyak pula putra-putri Indonesia yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas, seperti di Oxford," pungkas alumnus jurusan Teknik Elektro ITB ini.

http://news.detik.com/read/2014/08/04/163239/2652826/10/kisah-inspiratif-immang-kandidat-doktor-fisika-di-oxford-pada-usia-ke-23

Monday, August 4, 2014

Kakak Beradik Lulusan SMA Kalahkan Insinyur Oxford di Lomba Desain Komponen Mesin Jet

Kakak Beradik Lulusan SMA Kalahkan Insinyur Oxford di Lomba Desain Komponen Mesin Jet
indonesiaproud
Arfi an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa mengalahkan insinyur lulusan University of Oxford 
TRIBUNNEWS.COM, SALATIGA - Bangsa Indonesia tak boleh kehilangan semangat sebagai bangsa yang kreatif dan inovatif. Lihatlah, pemuda lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA-SMK) asal Salatiga ini mampu mengalahkan insinyur-insinyur dunia. Sungguh, kekayaan bangsa ini tidak terletak pada sumber daya alamnya, tapi pada sumber daya manusiannya. 
Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23), kakak beradik asal Salatiga, menyabet juara pertama dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan General Electric (GE) tahun ini. Tidak cuma itu, dalam kompetisi tersebut, karya Arfian dan Arie berhasil mengalahkan karya insinyur lulusan universitas terkemuka dunia. 
"Arfian dan Arie berhasil mendesain jet engine bracket  yaitu salah satu komponen untuk mengangkat mesin pesawat terbang yang paling ringan dari komponen serupa yang pernah dibuat di dunia. Bahkan, mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga," ujar Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia, Jakarta, Selasa (22/7/2014). 
Dua pemuda lulusan SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah, ini berhasil menyisihkan 700 karya dari 50 negara peserta yang mengikuti kompetisi tersebut.
Keunggulan jet engine bracket yang didesain Arfian dan Arie adalah komponennya yang hanya berbobot 327 gram atau 84 persen lebih ringan dari pascaproses pembuatan cetak biru atau prototipe Jet engine bracket saat ini yang seberat 2 kilogram. 

Friday, August 1, 2014

Google Mengumumkan Kontes Engineering Berhadiah 1 Juta Dolar

Tantangan Anda adalah membuat sebuah inverter daya seukuran tablet. Berani?
Bermitra dengan IEEE, Google mencari orang-orang yang sanggup mengubah power inverter, yang mereka gambarkan di blog mereka sebagai “sebuah perangkat berukuran kotak pendingin piknik yang mampu mengubah energi yang berasal dari matahari, angin, dan elektronika (daya DC) menjadi sesuatu yang dapat Anda gunakan di rumah (daya AC)”, dan menyusutkannya hingga menjadi sekitar 1/10 ukuran normalnya, atau kira-kira jadi seukuran tablet atau mini-laptop.
Jika uang sejuta dolar tidak menarik bagi Anda, maka alasan kemanusiaan mungkin bisa menggerakkan Anda. Penemuan ini akan membantu menyelamatkan dunia, katanya. Bahkan menjadikan Anda sebagai Tesla atau Thomas Alva Edison berikutnya. Dalam blog mereka, Google menyatakan tentang betapa pentingnya inovasi ini ke dalam sebuah kalimat persuasif, “Sebuah inverter yang lebih kecil akan membantu menciptakan microgrid berharga murah bagi bagian terpencil di dunia. Selain itu juga memungkinkan Anda untuk membuat lampu tetap menyala selama pemadaman dengan baterai mobil listrik Anda. Atau justru memungkinkan inovasi-inovasi yang bahkan belum pernah kita pikirkan sebelumnya”. Pada dasarnya, Anda lah yang nanti akan membentuk masa depan listrik di dunia.
Sergey Brin Google Mengumumkan Kontes Engineering Berhadiah 1 Juta Dolar studentpreneur entrepreneur startupGoogle Mengumumkan Kontes Engineering Berhadiah 1 Juta Dolar [Studentpreneur]
Google memberikan deadline registrasi hingga tanggal 30 September 2014.  Oh ya, registrasinya gratis. Tim terdaftar akan diberikan waktu 10 bulan untuk mengembangkan teknologi mereka, karena deadline pengiriman cetak biru adalah pada tanggal 22 Juli 2015. 18 finalis terpilih akan diminta untuk membawa inverter mereka ke fasilitas pengujian Google di Amerika Serikat pada tanggal 22 Oktober 2015. Kemudian sekitar bulan Januari 2016, pemenang akan diumumkan dan masyarakat bisa menikmati teknologi terbaru hasil kompetisi ini. 2016 akan menjadi titik awal perubahan wajah listrik di dunia.
Nah Sobat Studentpreneur, Anda bisa mengetahui sejumlah informasi detail lainnya mengenai kompetisi ini atau bahkan mendaftar secara gratis ke kompetisi ini melalui halaman littleboxchallenge.com. Semoga Tesla dan Thomas Alva Edison berikutnya datang dari Indonesia. Anda berminat? Mari berdiskusi di kolom komentar! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit: Steve]
https://id.berita.yahoo.com/google-mengumumkan-kontes-engineering-berhadiah-120013714.html

Tuesday, July 29, 2014

Indonesian Orders World's First CNG Carrier

First Ever CNG to Be Classed by ABS ABS Chairman and CEO Christopher J. Wiernicki

ABS, a provider of global marine classification services, has been chosen to class the world’s first compressed natural gas (CNG) carrier ordered by Pelayaran Bahtera Adhiguna, a subsidiary of Indonesia’s state-owned power company Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).


The precedent-setting ship is to be built at Qingdao Wuchuan Heavy Industry’s shipyard in northern China.
“As society’s demands continue to drive the search for cleaner forms of energy, new methods of marine transport, propulsion and processing for gas are being required.
ABS remains committed to being on the leading edge of that technical evolution, supporting industry and regulators as they navigate through the challenges,” said ABS Chairman and CEO Christopher J. Wiernicki. 
The CNG ship has been designed by China’s CIMC Ocean Engineering Design & Research Institute.
PT PLN’s inaugural CNG ship, which will be dual-classed with the Indonesian class society Biro Klasifikasi Indonesia, will be 110 meters in length and offer sailing speeds of 14 knots.
It is designed to offer a nominal CNG capacity of 2,200 m3 and will fly under the Indonesian flag.
The ship is expected to transport natural gas from Indonesian fields in East Java to communities on the island of Lombok, benefiting relatively remote communities that are not economically feasible to supply by pipeline.
The contract award comes just months after ABS unveiled its new Global Gas Solutions team, a multi-disciplinary group of technical specialists formed to respond to the rapidly escalating number of gas-related projects, including LNG and LPG transportation, the use of LNG and LPG as fuel and a growing number of FLNG projects.

Press Release, July 29, 2014

I Gde Wenten Penemu IGW Emergency Pump

Dr. Ir. I Gde Wenten, M.Sc. dosen pada Departemen Teknik Kimia ITB menemukan pompa tangan pemurni air yang menggunakan teknologi membrane yang diberi nama IGW Emergency Pump.

Atas jasanya tersebut, pada hari Rabu 21 Agustus 2013, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menganugerahkan B.J Habibie Technology Award atas perannya mendirikan industri membran pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Industri membran yang dibuat Wenten mengembangkan IGW Emergency Ultrafilter dan IGW Green Ultrafilter, yaitu pompa yang dilengkapi filter untuk menyediakan air bersih dalam kondisi darurat.

Keistimewaan perangkat ini adalah cara pengoperasiannya yang cukup menggunakan tangan tanpa disertai tenaga listrik. Adapun IGW merupakan kependekan dari namanya.

Pompa ini juga bersifat portable atau mudah dibawa ke mana saja. Alat ini juga memiliki tingkat selektivitas yang tinggi sehingga mampu menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, kuman, dan koloid.

Wenten menyebutkan, satu unit pompa IGW bagi rumah tangga dijual mulai Rp 70 ribu. Sedangkan bagi industri, satu unitnya dijual hingga miliaran rupiah. "Untuk industri pompa ini salah satunya digunakan sebagai penyaring minyak sayuran," ucap dia.

Menurutnya, teknologi membrane adalah teknologi pemisahan yang kerjanya di level molekul dan berukuran nano atau sangat kecil sekali.

Pompa ini praktis, bekerja tanpa listrik, mudah dibawa, relatif murah, kapasitas tinggi, pemasangan sederhana, ramah lingkungan, dan sangat cocok untuk kondisi darurat, seperti di tempat pengungsian saat terjadi bencana, camping, ekspedisi, dan juga di daerah yang rawan air bersih.

“Pompa ini kecil bahkan bisa dikempit tetapi kapasitasnya cukup besar, bekerjanya dengan dipompa oleh tangan, kemudian tidak pakai bahan kimia dan pemanasan, tetapi efektif sekali menghilangkan mikroba (bakteri) dan kekeruhan”, ujar Wenten.

Pompa ini seperti pompa sepeda, hanya di dalamnya diisi filter membrane, yang mempunyai saringan halus sekali, yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Wenten satu-satunya di Asia Tenggara yang mengembangkan alat berbasis membran.

Kata Wenten, alat ini bisa digunakan untuk mengurangi penggunaan air di tingkat rumah tangga, terutama di daerah yang curah hujannya kecil, utamanya untuk mandi-cuci. Setelah mandi dan cuci, airnya jangan dibuang, bisa dipompa lagi dengan alat ini, dan besoknya bisa dipakai kembali. Alat ini juga bisa dipakai untuk radiator mobil dan berguna bagi nelayan.

Awalnya IGW Emergency Pump ditujukan untuk daerah yang terkena bencana. Dimulai ketika terjadi Tsunami Aceh 2004. ketika itu kebutuhan akan air bersih dirasa sangat mendesak. Alat yang ada ternyata membutuhkan listrik, sementara listrik sangat sulit didapat di daerah bencana. Akhirnya Wenten-pun menciptakan pompa tangan yang bisa memurnikan air hingga bisa dipakai menjadi air minum, mandi, dan masak.

Air yang digunakan untuk dimasukkan pompa bisa berasal dari mana saja, bahkan dari air limbah sekalipun. Tapi yang harus diperhatikan limbah yang dimaksud bukanlah limbah yang mengandung toxic atau racun, karena hal ini sangat tidak disarankan.

Mekanismenya, air disedot melalui saluran air, setelah pompa ditekan, air keluar adalah air bersih dengan kualitas sangat tinggi. Kalau air berasal dari air keruh di pedesaan atau daerah rawan bencana bisa langsung diminum. “Tetapi kalau di Jakarta dimana kontaminasi industri tinggi, jangan diminum, karena mungkin sekali mengandung arsenik, chrom atau sianida yang tidak dapat dihilangkan,” tegas Doktor lulusan Denmark ini.

Awalnya Wenten hanyalah seorang anak nelayan yang tidak berkeinginan kuliah tinggi karena berlatar belakang dari keluarga kurang mampu. Pria kelahiran 15 Februari 1962 ini menghabiskan masa kecilnya di Desa Pengastulan Buleleng, Bali. Tidak mudah jalan yang dilalui Wenten untuk mencapai keberhasilannya seperti sekarang ini. Pria yang di Eropa dikenal sebagai revolusioner terbesar industri bir dalam lima puluh tahun terakhir ini merupakan bungsu dari 11 bersaudara. Wenten sempat berhenti sekolah ketika SMA dikarenakan masalah finansial, namun rupanya kesulitan-kesulitan yang Wenten muda alami turut membentuk pribadinya yang mandiri dan pekerja keras. Ayah Wenten, Made Sarta (almarhum) bekerja sebagai buruh nelayan yang menyewa perahu, tetapi hal tersebut tidak lantas menjadikan orang tua Wenten mengesampingkan pendidikan anak-anaknya. "Meski mereka tidak banyak bercerita, saya sangat merasakan kasih sayang mereka. Mereka dedikatif sekali untuk menyekolahkan anak-anaknya. Segala usaha mereka kerahkan," tukas Wenten.

Beranjak SMA, orang tua Wenten meninggal dunia. Wenten berusaha tegar dan tetap bertekad untuk meneruskan sekolahnya, "Keberhasilan saya banyak dibantu oleh nasib. Waktu itu saya seperti kehilangan induk. Saya bisa lulus, dan bahkan kuliah di Bandung juga karena ngikut orang," selorohnya. Wenten selalu berusaha untuk terus belajar, latar belakang ekonominya membuat Wenten selalu memaksimalkan setiap kesempatan yang ditemuinya hingga sekarang banyak prestasi dan dedikasi yang ia berikan.

Selanjutnya, Wenten mengawali pendidikan tingginya di Jurusan Kimia ITB tahun 1982. Lulus dari ITB pada tahun 1987, Wenten kemudian melanjutkan studinya di Denmark Technology University, Kopenhagen. Wenten meraih gelar master bioteknologi tahun 1990 dan sekaligus program teknik kimia pada tahun 1995 di Denmark Technology University. Ketika mengambil program masternyalah, Wenten pertama kali menekuni bidang teknologi membran. Wenten bisa dibilang merupakan peneliti yang loyal dalam penelitian, dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang ia raih sampai saat ini.

Tahun 1994, Wenten memperoleh paten dari alat yang ia kembangkan untuk peningkatan penyaringan pada industri bir. Wenten berhasil menemukan cara baru filtrasi bir memakai selaput membran. Kelebihan membran ciptaannya adalah tetap terjaganya mutu protein bir. Selain itu, limbah produksi pabrik bir tak lagi mencemari lingkungan. Media Eropa menyebut penemuan itu sebagai revolusi terbesar bagi industri bir dalam 50 tahun terakhir. Sehingga pada tahun yang sama, Wenten pun kembali meraih penghargaan tertinggi dari Filtration Society London berupa Suttle Award, sebagai bukti tingginya nilai inovasi temuannya, sebuah penghargaan yang hanya dianugerahkan kepada peneliti di bawah usia 35 tahun. Sejak tahun 2002, Wenten membangun pabrik pembuatan membrane di Bandung. Pabrik tersebut memproduksi berbagai alat yang kesemuanya menggunakan teknologi membran dan pembuatannya dilakukan oleh putra bangsa ini sendiri. (berbagai sumber)